Tuesday, December 20, 2016

Damailah bangsaku!

Akhir-akhir ini kita menyaksikan suatu ancaman baru dalam kebhinekaan kita di Indonesia. Setiap hari kita mendapatkan informasi yang menyedihkan hati karena begitu banyaknya peristiwa-peristiwa intoleransi yang membahayakan bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Secara pribadi, saya melihat peristiwa-peristiwa seperti ini sebagai sebuah penyakit sosial yang berpotensi untuk merusak peradaban bangsa yang sedang dibangun. Tentu saja ini juga menunjukkan bahwa bangsa kita ini sedang sakit dan perlu segera ditangani dengan baik supaya bisa kembali sehat. Sumber penyakit itu adalah bertumbuh suburnya sikap-sikap intoleran dan radikal dalam masyarakat yang tidak menghargai keberadaan orang lain atau kelompok lain. Tanpa penanganan yang serius, penyakit sosial ini akan merusak tatanan hidup masyarakat Indonesia yang cinta damai.

Kita harus ingat satu hal bahwa, tanah air, tempat kita berdiri sekarang ini, sang ibu pertiwi, akan menangis, ketika kita tidak mampu hidup berdampingan secara damai dengan sesama anak-anak bangsa  yang berbeda dengan kita. Ibu pertiwi akan berduka apabila kita tidak mampu bersatu untuk memajukan negeri secara bersama-sama. Rasa permusuhan dan kebencian kepada mereka yang berbeda dengan kita akan menjadi sumber malapetaka yang menghambat kemajuan kita sebagai bangsa dalam membangun peradaban yang maju. Kita sudah merdeka hampir seabad melalui perjuangan bersama dari begitu banyak para pejuang  bangsa yang telah merelakan jiwa raganya untuk negeri tercinta, tetapi mengapa kita masih terus bertengkar dan tidak mampu hidup berdamai dengan sesama anak-anak bangsa?

Kita ini hidup di negeri yang sama, kita lahir dan dibesarkan di tanah ibu pertiwi yang kita cintai. Indonesia adalah milik kita bersama yang harus rawat dengan kebesaran hati. Mustahil kita akan menjadi bangsa yang besar apabila kita masih tidak menghargai keberadaan sesama kita. Sesungguhnya tidak ada satu kelompok masyarakat pun di negeri ini yang dapat mengklaim sebagai pemilik satu-satunya sehingga mengabaikan hak-hak kelompok lain yang mempunyai hak yang sama untuk hidup dan berkontribusi bagi pembangunan negeri kita. Kita jangan buta pada sejarah dan jangan pernah melupakan dasar komitmen untuk membangun bangsa kita yang dilandasi dengan semangat kebersamaan. Karena sesungguhnya kita ada karena kita berbeda.


Sebuah anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa yang telah menciptakan Indonesia dari manusia-manusia yang memiliki perbedaan-perbedaan baik suku, agama, ras, Bahasa, dan budaya. Perbedaan-perbedaan itu justru menjadi bukti bahwa kita adalah bangsa yang kaya karena keberagamaan itu begitu indah. Marilah rawat dan tebarkan damai, sehingga dunia ini menjadi tempat yang layak untuk kita huni bersama.   

Friday, April 18, 2014

Kisah Sebuah Perubahan di Pedalaman Papua

Seorang Pemburu,
Kini menjadi Pegiat Ekonomi Kampung
Oleh: Notatema Gea

Kisah perubahan berikut ini adalah salah satu pengalaman penulis bekerja bersama masyarakat di pedalaman Papua. Jika melihat kondisi daerah pedalaman Boven Digoel yang sangat terpencil mungkin sedikit harapan yang bisa diberikan untuk mengubah kehidupan masyarakat. Namun dalam perjumpaan dengan masyarakat, penulis melihat sendiri sebuah perubahan yang sangat besar karena adanya kemauan seseorang atau sekelompok masyarakat untuk menjadi lebih baik. Sekecil apapun usaha yang dilakukan pasti ada hasilnya bila diperjuangkan dengan sepenuh hati.

Foto Pak Bruno

"Dulu saya sehari-hari bekerja sebagai pemburu babi hutan. Jam 7 atau jam 8 malam  itu saya harus pergi berburu sampai dengan pagi. Daging hasil buruan saya jual ke pasar dan uang hasil penjualan itu saya bawa pulang untuk membeli kebutuhan-kebutuhan keluarga.” Kenang Pak Bruno mengingat kembali pengalaman hidupnya.

Pria sederhana, berumur 51 tahun ini, kini tidak lagi menggeluti profesinya sebagai pemburu binatang di hutan. Kini dia sudah menjadi salah seorang penggerak kegiatan ekonomi di kampungnya sendiri. Saat ini Pak Bruno menjadi ketua koperasi di kampungnya, yaitu di kampung Ogenetan Distrik, Iniyandit, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Dia sudah memimpin koperasi itu sejak berdiri pada tahun 2009 dengan memberikan banyak perubahan pada kehidupan masyarakat di kampungnya menjadi semakin lebih baik.

Pak Bruno mengisahkan beberapa kondisi di kampung sebelum adanya koperasi. “Dulu kami harus berjalan kaki sejauh 15 km ke Mindiptana (baca:salah satu kota kecamatan yang terdekat dari kampung Ogenetan), untuk menjual karet hasil kebun dan membeli barang-barang kebutuhan pokok keluarga. Kami tidak hanya lelah dalam perjalanan untuk menjual hasil-hasil kebun, tapi harga penjualan pun sangat murah karena kami menjualnya kepada para plasma-plasma (tengkulak) yang sering mempermainkan harga.” Demikian pak Bruno melanjutkan ceritanya.

Kondisi inilah yang memicu semangatnya bersama-sama dengan beberapa warga di kampungnya untuk memikirkan jalan keluar dari kondisi tersebut. Lalu muncullah ide untuk mendirikan koperasi untuk berusaha bersama-sama. Namun ide ini pun tidak begitu saja diterima masyarakat, sebagian warga menolak ide untuk mendirikan koperasi karena mereka sudah dua kali memiliki pengalaman buruk dalam mendirikan koperasi yang selalu gagal. Mereka yang menolak merasa pesimis dengan masa depan koperasi tersebut.

Akan tetapi penolakan itu tidak menyurutkan semangat Pak Bruno bersama dengan warga yang masih memiliki komitmen yang tinggi untuk membuat perubahan ekonomi di kampung. Mereka tetap mau bangkit dari pengalaman kegagalan yang pernah terjadi. Akhirnya mereka pun mewujudkan ide untuk mendirikan koperasi yang mereka namakan Koperasi Nonggup. Nonggup, dalam bahasa suku Mandobo Papua, berarti kebersamaan.

Awalnya mereka mulai mengumpulkan iuran anggota dan kemudian mereka memulai usaha koperasi dengan membeli barang-barang kebutuhan pokok dari kota dan menjualnya di koperasi. Sejak itu, warga kampung tidak harus menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk berjalan kaki dalam membeli kebutuhan-kebutuhan mereka karena sudah tersedia di koperasi.

Kemudian koperasi juga membangun kerja sama dengan PT Montelo, Perusahaan Penampung Karet di Kabupaten Boven Digoel. Koperasi bertugas mengumpulkan karet dari masyarakat kemudian menjualnya sekaligus kepada PT Montelo. Sejak itu, harga karet pun menjadi lebih baik, karena mereka tidak lagi harus menjual kepada para tengkulak. Masyarakat pun menjadi lebih rajin menoreh karet karena harga jual sudah lebih baik. Jika sebelumnya harga karet kadang-kadang hanya 8.000/kg kini mereka sudah menjual dengan harga Rp 18.000-23. 000/kg.
Foto Pengolahan Karet: Sumber utama Pendapatan Masyarakat
 Kehadiran koperasi Nonggup memang sangat berdampak positif pada peningkatan pendapatan anggotanya. Dengan semakin meningkatnya pendapatan, orangtua mampu untuk mengirimkan anak-anaknya melanjutkan sekolah di kota. Beberapa anak melanjutkan sekolah di tingkat SMP dan SMA di kota Kabupaten Boven Digoel dan beberapa anak sudah bisa masuk ke perguruan tinggi.

Pak Bruno, yang mempunyai nama lengkap Bruno Etmop ini, juga menceritakan perubahan-perubahan yang dialaminya secara pribadi sejak masuk menjadi ketua koperasi. “ Dulu saya pendiam dan pengetahuan terbatas tapi saya kini sudah lebih percaya diri untuk berbicara di depan umum sejak saya menjadi ketua koperasi. Saya bersyukur dengan bantuan pendampingan dari WVI (baca: sebuah lembaga kemanusiaan tempat penulis berkarya) wawasan dan pikiran saya semakin terbuka sehingga saya lebih mampu untuk menjalankan tugas saya sebagai pengurus koperasi.”  Walaupun Pak Bruno hanya lulusan kelas 6 SD namun dia sudah mampu mengelola koperasinya dengan baik dan semakin berkembang.

Pak Bruno, yang mempunyai nama lengkap Bruno Etmop ini, juga menceritakan perubahan-perubahan yang dialaminya secara pribadi sejak masuk menjadi ketua koperasi. “ Dulu saya pendiam dan pengetahuan terbatas tapi saya kini sudah lebih percaya diri untuk berbicara di depan umum sejak saya menjadi ketua koperasi. Saya bersyukur dengan bantuan pendampingan dari WVI wawasan dan pikiran saya semakin terbuka sehingga saya lebih mampu untuk menjalankan tugas saya sebagai pengurus koperasi.”  Walaupun Pak Bruno hanya lulusan kelas 6 SD namun dia sudah mampu mengelola koperasinya dengan baik dan semakin berkembang.


Dia sendiri merasa banyak belajar dari perannya sebagai ketua koperasi. “Saya belajar untuk bertanggung jawab dalam koperasi. Saya sebagai pengurus harus memegang prinsip takut pada Tuhan dan takut pada uang anggota serta percaya diri dalam mengelola usaha.” Itulah nilai-nilai yang dipegangnya dalam menjalankan tugas sebagai pengurus Koperasi yang dipercayai anggota.  


Dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua koperasi, Pak Bruno, ayah dari dua orang anak ini, juga banyak mendapat dukungan dari masyarakat. Keluarganya pun mendukung kegiatannya dalam pengembangan koperasi. Secara pribadi, ada banyak hal yang dimpikan Pak Bruno bisa terjadi di kampungnya melalui kehadiran koperasi. Dan dia ingin terus berjuang untuk mewujudkan mimpinya itu. “Visi saya ke depan adalah koperasi harus berkembang dan saya harus jamin anggota saya yang sudah terdaftar di koperasi mempunyai rumah yang baik dan layak.  Karena selama ini uang yang diperoleh masyarakat dari penjualan karet hanya digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari mereka saja dalam rumah tangga dan mereka belum bisa berpikir tentang rumah.” Ungkap Pak Bruno dengan antusias dan penuh rasa optimis.

Membangun usaha dengan kekuatan sendiri dan mengembangkan potensi lokal menuju kemandirian masyarakat lokal Papua, itulah semangat utama dalam  membangun koperasi yang dicita-citakan Pak Bruno. Dia selalu berusaha membangkitkan semangat warganya untuk membangun kampung sendiri. Pak Bruno meyakini bahwa ekonomi harus berkembang di kampung dan untuk meraihnya masyarakat harus bekerjasama. “Ekonomi kita harus jalan dikampung kita. Tidak ada yang membangun kampung kita selain kita sendiri, ungkap Pak Bruno

Dampak dari kehadiran koperasi Nonggup, yang dipimpin Pak Bruno, ini pun tidak hanya terasa bagi anggota yang terdaftar. Kini semua warga kampung menjadi anggota koperasi. Selain beberapa koperasi pun di sekitar kampung berdiri sebagai cabang koperasi Nonggup. Beberapa kampung belajar tentang cara pengelolaan koperasi setelah mereka mendengar tentang keberhasilan yang sudah dicapai Koperasi Nonggup. Dan beberapa koperasi cabang tersebut sudah berkembang menjadi koperasi yang mandiri.

Pak Bruno pun ingin bila semakin banyak orang yang mengembangkan koperasi di kampung-kampung yang lain. Pengalaman menjalankan usaha yang sudah dimilikinya pun sering dibagikan kepada kelompok masyarakat lainnya untuk memberikan pembelajaran dan tips dalam mengelola koperasi. Dia memotivasi warganya dan warga kampung sekitar untuk tetap semangat, walaupun pernah gagal dalam mengelola usaha. “Kita harus tetap semangat dan jangan pernah putus asa. Jika menemui kegagalan kita evaluasi lagi untuk membangun kembali koperasi.” Demikian Pak Bruno mengakhiri ceritanya.



Monday, July 1, 2013

Bebaskan Pikiran

Pikiran yang bebas menjadi modal utama dalam membuat suatu perubahan. Berpikir "out of box" atau "beyond" melahirkan ide-ide yang dapat mengubah dunia. Sistem berpikir yang sudah ada seringkali memenjarakan kreatifitas seseorang sehingga keberanian untuk mengambil resiko harus dilakukan. Kita terbentuk dalam kultur berpikir tertentu yang sudah menjadi kebiasaan. Berpikir secara berbeda menjadikan kemapanan dan stabilitas dilanggar dan banyak orang yang tidak menyukainya. Kita mengembangkan sendiri pemikiran kita. Pada dasarnya semua ide dilahirkan dalam kondisi kebebasan tanpa tekanan dan intimidasi. Ketika seseorang berpikir dan menghasilkan suatu gagasan, ia harus berani untuk mengungkapkannya dan siap untuk melakukannya

Bagaimana dengan pola pendidikan kita apakah sudah mendukung sistem pemikiran yang membebaskan? Dan apakah kita sudah punya ruang yang cukup untuk mengekspresikan pikiran kita, dan kita berani untuk berpikir secara berbeda? Fakta menunjukkan bahwa sistem pendidikan menghafal materi pelajaran masih menjadi metode yang banyak dipakai oleh guru-guru. Sistem pendidikan yang menekankan hafalan hanya akan menciptakan manusia yang menampung informasi dan kemudian melupakannya. Sistem belajar mengajar masih menerapkan sistem yang menjadikan siswa sebagai bank informasi. Celakanya lagi, semua proses belajar-mengajar diarahkan untuk menjawab soal-soal UAN.

Semestinya proses belajar mengajar lebih diarahkan untuk mengembangkan kreatifitas dan menekankan pada proses bukan hanya pada tujuan untuk meraih nilai dalam bentuk angka-angka. Siswa ditolong menemukan sendiri cara belajar yang baik dan tepat untuknya, dengan terus menggali minat dan pilihan studinya. Metode pembelajaran problem-solving, studi kasus, diskusi, dan penemuan harus lebih ditekankan. Karena dalam proses inilah siswa akan mampu untuk mengekspresikan pikirannya dan tidak hanya mengikuti buku teks yang baku. Pemahaman dan penemuan harus menjadi dua titik fokus yang tidak dapat dipisahkan. Hasil belajar tidak dapat diperoleh dalam sehari, tetapi melalui suatu proses panjang yang terencana yang membentuk seluruh pemahaman dan kepribadian peserta didik.

Proses belajar mengajar harus sampai pada tingkat perubahan perilaku, bukan hanya pada peningkatan pemahaman. Proses belajar dapat berhasil ketika siswa sudah memahami materi pelajaran, mengamalkan ilmunya, dan menemukan hal baru. Sayangnya hasil belajar siswa lebih banyak hanya mengukur pemahaman atau penguasaan terhadap materi pelajaran dan mengabaikan perubahan sikap dan perilaku. Pola pendidikan seperti inilah yang memenjarakan pikiran. Mematikan kreatifitas, belajar tanpa kebebasan. Pendidikan kita juga minim akan apresiasi sehingga tidak memacu orang untuk menemukan hal-hal baru.

Masyarakat intelektual seharusnya menyediakan ruang yang lebih luas untuk pengembangan teori-teori baru. Dalam masyarakat Yunani kuno, ada ruang untuk menyampaikan pikiran mereka dalam tempat yang disebut agora. Agora adalah ruang publik untuk menyampaikan pikiran-pikiran baru. Ruang diskusi ini yang seharusnya terus dikembangkan, termasuk laboratorium-laboratorium ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu. Dengan demikian kita membutuhkan suatu perubahan cara berpikir dalam pendidikan kita. Kita harus berani keluar dari sistem yang lama dan berusaha untuk memasuki ruang-ruang kebebasan yang baru. Selamat menjadi orang yang berpikir secara bebas.

Tuesday, June 4, 2013

Tertawa itu sehat

Berapa kali anda tertawa hari ini? Atau kapan anda terakhir tertawa dengan bebas? Jika anda sering tertawa bersama orang lain atau menertawakan diri anda sendiri berarti itu tandanya jiwa anda sehat. Kebahagiaan terpancar dari hati yang senang. Tidak peduli seberapa berat beban anda, sediakan waktu untuk tertawa supaya anda menjadi lebih awet muda. Hati yang gembira adalah obat paling manjur bagi setiap hati yang sedang galau. Tertawa adalah sebuah proses pembebasan energi negatif. Anda pasti segar setelah tertawa, anda tidak perlu kuatir dengan banyak hal. Biarkanlah hidup ini terus mengalir dan rawatlah kesehatan jiwa anda. Jika anda mampu membuat orang lain tertawa berarti anda sedang menghibur jiwa-jiwa yang sedang berada dalam masalah atau krisis yang besar. Orang yang banyak tertawa pasti akan lebih sehat dibandingkan dengan orang-orang yang murung. 

Masukkanlah energi positif ke dalam diri anda melalui tertawa. Manusia membutuhkan hiburan dan relaksasi. Bahkan hati yang bahagia akan menjadikan anda sebagai manusia yang produktif dalam kehidupan. Orang-orang yang terlalu serius akan lebih banyak menampung energi negatif ke dalam dirinya sehingga dia tidak mampu menikmati sukacita yang penuh. Ada kalanya kita perlu merasa serius tetapi kita harus menemukan relaksasi yang memberi rasa kegembiraan setiap hari. Selamat tertawa!!!!!

Sunday, September 9, 2012

Boven Digoel: Sebuah Kota Kecil Bersejarah di Belantara Ujung Timur Indonesia

Jalan-jalan melihat kekayaan dan keindahan Bumi Indonesia


Gambar Kota Boven Digoel
Anda tidak akan pernah menyangka kalau ada sebuah kota kecil di perbatasan Ujung Timur Indonesia yang begitu mempesona. Setiap orang yang suka petualangan dan mencintai tanah air perlu mengunjungi tempat ini. Kota ini adalah kota bersejarah yang terletak di ujung perbatasan paling Timur wilayah Indonesia. Daerah ini dulunya adalah hutan rimba yang luas yang dihidupi binatang-binatang buas dan juga masyarakat asli yang belum terpengaruh modernisasi. Dulunya tempat ini menjadi tempat pembuangan pahlawan bangsa kita. Mohammad Hatta adalah seorang tokoh nasional dan proklamator yang pernah mengalami pembuangan. Penjara tempat sang Proklamator menghabiskan hari-harinya di pembuangan masih berdiri kokoh sampai hari ini. Penjara ini menjadi salah satu situs sejarah bangsa kita. Untuk mengingat bung Hatta maka di sini telah dibangun satu monumen tugu sang proklamator.



Gambar Tugu Mohammad Hatta (Sang Proklamator)
 di Boven Digoel
Bagi orang yang tidak pernah datang ke tempat ini akan sulit membayangkan keadaan di sini pastinya. Untuk mencapai daerah ini pastinya kita harus ke Merauke. Kita dapat menggunakan 3 pilihan transportasi. Pertama, pesawat udara yang dapat ditempuh dalam waktu 70 menit menggunakan jenis pesawat fokker yang bisa memuat sekitar 12 orang penumpang. Kedua, Sungai yang menggunakan kapal dari merauke dapat ditempuh selama sekitar 2 hari. ketiga, darat dengan naik mobil. mobil yang beroperasi tidak sembarang karena medan yang cukup sulit dan berlumpur. Umumnya mobil jenis Hilene yang sudah dimodifikasi yang beroperasi. lama waktu perjalanan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Jika cuaca cerah sekitar seminggu maka bisa ditempuh dalam waktu 9-10 jam. tetapi kalau cuaca lagi hujan maka bisa ditempuh dalam waktu 16-24 jam.

Gambar mobil yang biasa digunakan
 untuk transportasi Merauke-Boven Digoel
Gambar Transportasi Sungai di Kali Digoel
jika kita melihat dari udara pada saat perjalanan lewat pesawat maka yang nampak di sepanjang perjalanan hanyalah hutan rimba yang tidak berpenghuni. Rumah-rumah penduduk hampir tidak kelihatan karena memang sebagian besar daratan berbentuk rawa-rawa sehingga tidak ada perkampungan di banyak tempat. Hanya tempat-tempat yang agak tinggi dan kering saja yang dijadikan tempat hunian masyarakat. Tetapi ketika kita tiba di bandara BovenDigoel, yang tidak terlalu luas, kita akan melihat suasana yang baru. karena sudah tidak lagi sunyi seperti dulu. Banyak orang-orang dari luar yang tinggal di tempat ini, tidak hanya masyarakat asli saja. Ada berbagai suku yang ada di kota seperti: makasar, toraja, ambon, manado, jawa, batak, dan lain-lain. Interaksi penduduk sudah semakin seperti kondisi kota-kota besar. Kota Boven digoel yang beribukota Tanah Merah merupakan kota kabupaten yang baru dimekarkan dari kabupaten induk merauke. Infrastruktur masih dalam proses pembangunan dan kondisi kota masih dalam masa transisi menuju kota yang sama seperti kabupaten lainnya.

Kota ini termasuk daerah yang aman dan jauh dari kekacauan. Masyaraka hidup secara tertib dan damai walaupun berasal dari latar belakang yang berbeda.


Gambar Penjara Boven Digoel peninggalan Belanda
 yang biasa digunakan sebagai tempat pembuangan para pejuang 
Gambar Sel-sel penjara tua saksi sejarah
Gambar sel Penjara Boven Digoel peninggalan Belanda

Saturday, June 16, 2012

Hakikat Belajar Tanpa Batas

Kehidupan sebagai sumber belajar utama

Kita bisa belajar dari banyak hal. Sumber belajar sangat banyak di sekitar hidup. Tanpa belajar hidup terasa hampa. Belajar sesungguhnya tidak hanya berlangsung di bangku sekolah, tetapi belajar berlangsung di sepanjang kehidupan. Perbedaan orang yang belajar dan yang tidak belajar terletak pada kemauan seseorang untuk memaknai dan berefleksi dari setiap pengalaman. Orang yang belajar selalu memaknai setiap peristiwa yang dihadapinya sedangkan orang yang tidak belajar mengabaikan setiap peristiwa yang dilewatinya.

Semua hal yang terjadi di dalam kehidupan kita adalah pelajaran. Sejak lahir secara alamiah kita belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar untuk mampu eksis. Keunggulan ras manusia terletak pada kemampuannya untuk belajar dan mampu untuk berubah. Hidup terus berubah. Hidup dinamis. Betapa sayang sekali jika hidup dilewati tanpa belajar. Belajar tidak hanya cukup berlangsung secara alamiah, tetapi belajar harus dilakukan secara sengaja dan terencana. Kita ingin belajar karena banyak manfaat yang diperoleh dari belajar. Belajar adalah seumur hidup. Belajar tidak mengenal usia, tempat dan waktu. Hanya orang mati saja yang berhenti belajar. Hidup dapat dimaknai melalui kegiatan belajar. 

Rasa ingin tahu adalah dorongan terbesar yang menghasilkan penemuan-penemuan manusia di sepanjang zaman. Kita memiliki daya imajinasi yang begitu kuat untuk mencari sesuatu yang tersembunyi dan belum tersingkapkan. Pikiran dan hati seumpama jendela menuju sorga yang memperlihatkan keajaiban-keajaiban. Kita menggunakan semua panca indra kita untuk menangkap semua realitas yang konkret dan abstrak. Manusia sungguh sempurna. Manusia diciptakan menjadi pembelajar sejati diantara segala makhluk yang ada. Kita perlu bersyukur dengan anugerah tersebut sehingga kita pun tidak boleh berhenti belajar. Belajar, belajar, dan belajar, yuk!!!!

Arti Sebuah Inspirasi

Tiada akhir yang indah tanpa sebuah awal yang sulit! 
Tiada kreatifitas tanpa kebebasan 
Tiada keberhasilan tanpa keberanian Yang penting: MULAI saja!


Aku sering merasa kesulitan untuk menuliskan semua hal yang aku pikirkan. Kondisi ini membuat aku ingin menulis dengan bebas tentang hal-hal yang aku pikirkan tanpa batas. Mungkin inspirasi kadang-kadang sangat dibutuhkan untuk menggambarkan ide-ide, tetapi kenyataannya pikiran sering mengalami kebuntuan. Bisakah kita menulis sesuatu tanpa inspirasi? Atau bisakah kita mengendalikan pikiran agar bisa tetap berkreasi di wilayah imajinasi. Ahh...Bebaskan pikiran dan coba untuk menuliskan kata, itulah yang ingin aku lakukan.

Pengalaman adalah guru besar yang menuntun pikiran untuk menulis. Berlatih menulis sangat menarik dan penting untuk dikembangkan walaupun keterampilan menulis tidak mungkin dihasilkan dalam waktu yang instan. Kecakapan dalam menulis merupakan proses panjang yang harus di coba dan dicoba. Mustahil menghasilkan tulisan yang baik tanpa latihan. Itulah sebabnya aku belajar untuk menuangkan gagasan. bercerita dengan bebas tanpa hambatan. kebebasan dalam ekspresi. Aku ingin menuliskan pikiran-pikiran dan cerita-cerita dalam blog ini. Sebuah media belajar menulis dan menuangkan gagasan secara bebas dan berbagi cerita. Semoga aku bisa terus menulis!