Di usia lebih dari 40 tahun, saya memutuskan untuk belajar piano. Keputusan yang mungkin terdengar terlambat bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, ini adalah cara membuktikan bahwa belajar tidak pernah mengenal usia.
Sejak April 2025, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri dalam kursus piano di sekitar tempat tinggal saya. Hingga Februari 2026, saya sudah belajar hampir sepuluh bulan. Keputusan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya ini adalah langkah keluar dari rutinitas yang selama ini terasa monoton.
Belajar piano di usia lebih dari 40 tahun tentu berbeda dibandingkan belajar di usia anak-anak. Saya menyadari bahwa daya tangkap mungkin tidak secepat ketika masih muda. Namun di sisi lain, saya belajar dengan kesadaran yang lebih utuh. Saya menikmati setiap prosesnya.
Hal yang paling menantang adalah mensinkronkan tangan kiri dan tangan kanan. Awalnya terasa sangat sulit. Kadang saya tertawa sendiri karena sering gagal memainkan nada dengan kedua tangan secara bersamaan. Namun dengan waktu dan kesabaran, perlahan-lahan jari-jari saya mulai lebih terkoordinasi. Kemajuan kecil itu memberi rasa puas yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dari beberapa jenis kursus piano yang tersedia (klasik, pop, jazz, keyboard), saya memilih piano pop. Awalnya saya belum memahami perbedaannya. Setelah berdiskusi dengan teman kantor yang pernah belajar piano, saya disarankan memilih jalur pop karena lebih memungkinkan memainkan lagu-lagu populer. Mengingat tujuan saya hanya untuk hobi, pilihan ini terasa tepat.
Ada alasan lain yang membuat saya semakin mantap belajar piano. Anak saya yang berusia lima tahun juga kami rencanakan untuk mengikuti kursus piano. Saya berpikir, jika saya memahami dasar-dasar bermain piano, saya dapat mendampingi anak saya berlatih di rumah. Akhirnya kami mendaftar bersama. Anak saya masuk kelas persiapan, sedangkan saya di kelas 1 (Grade 1). Durasi kursus kami berbeda: anak saya satu jam setiap minggu, sedangkan saya 45 menit setiap minggu.
Setelah mendaftar, saya membeli buku piano sesuai kelas yang diikuti. Saya juga memutuskan membeli piano digital Yamaha P-145 agar dapat berlatih secara rutin di rumah. Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, saya merasa piano ini cukup membantu proses belajar pemula karena kualitas suara yang baik dan tuts yang cukup menyerupai piano akustik.
Di hari pertama kursus, saya diperkenalkan dengan bagian-bagian piano, posisi duduk yang benar, posisi tangan dan jari, serta tangga nada C. Lagu-lagu sederhana menjadi latihan awal saya. Karena terdorong rasa ingin tahu, saya berlatih hampir setiap hari minimal 30 menit. Biasanya saya berlatih di malam hari setelah pulang kerja atau sebelum tidur, menggunakan headphone agar tidak mengganggu keluarga.
Latihan rutin ini ternyata sangat membantu. Jika di hari pertama saya melakukan banyak kesalahan membaca not balok, di hari berikutnya saya mulai merasakan perbaikan kecil. Pada setiap sesi kursus, saya menampilkan hasil latihan kepada guru dan menerima masukan. Sebagai pemula, tentu saja kesalahan masih sering terjadi. Bermain piano melibatkan banyak aspek: koordinasi tangan, kelenturan jari, pemahaman ritme, hingga teori musik dasar.
Sebagai pembelajar dewasa, saya merasa tidak cukup hanya mengandalkan 45 menit pelajaran setiap minggu. Saya mencari tambahan referensi melalui buku-buku piano berbahasa Inggris seperti Alfred’s Basic Adult Piano Course dan Adult Piano Adventures, menonton video tutorial di YouTube, serta berdiskusi dengan ChatGPT untuk memahami istilah-istilah musik yang baru saya pelajari. Ketersediaan sumber belajar ini sangat membantu memperkaya pemahaman saya.
Sekitar enam bulan setelah mulai belajar, guru piano saya menawarkan untuk mengikuti ujian kelas 1. Awalnya saya ragu, tetapi saya mencobanya. Syukurlah saya lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Pengalaman itu memberi kepercayaan diri dan semangat untuk terus berlatih.
Saya sadar bahwa sebagai siswa kelas 1, kemampuan saya masih sangat dasar. Namun proses belajar ini memberi saya sesuatu yang lebih dari sekadar kemampuan memainkan lagu. Bermain piano menjadi ruang jeda dari kesibukan harian, sarana melatih konsentrasi, dan cara sederhana untuk mengingatkan diri bahwa pertumbuhan tidak berhenti pada usia tertentu.
Saya mungkin tidak akan menjadi pianis profesional. Tetapi setiap kali berhasil memainkan satu lagu sederhana, saya kembali diyakinkan bahwa belajar hal baru tidak pernah dibatasi usia atau kesibukan. Yang membatasi hanyalah kemauan untuk memulai dan ketekunan untuk melanjutkan.
Jika Anda juga sedang mempertimbangkan untuk belajar hal baru, mungkin ini saat yang tepat untuk memulai.
Berlatih Piano untuk Pemula Dewasa






