Thursday, October 24, 2019

Ke mana arah politik kita?



Dalam tiga atau empat tahun terakhir ini, kita sedang mengalami goncangan yang besar sebagai sebuah bangsa. Keutuhan kita sebagai bangsa yang rukun dan damai sedang diuji kekuatannya. Masyarakat kita terpolarisasi dalam kelompok-kelompoknya yang termanisfestasi dalam berbagai sikap menghina, merendahkan kelompok lain, meluasnya kebencian, lunturnya persahabatan, luruhnya solidaritas social dan berkembangnya benih-benih perpecahan. Perbedaan yang paling sering dijadikan akar permasalahan adalah perbedaan agama, suku dan pilihan politik.

Awalnya masyarakat kita sangat toleran terhadap perbedaan disertai dengan tingginya rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Namun, sikap toleran itu dengan begitu cepat berubah menjadi sikap anti perbedaan dan sikap permusuhan terhadap kelompok lain. Kontestasi politik yang kurang sehat menjadi awal dalam prahara tersebut. Tanpa sadar atau dengan sengaja para politisi memanfaatkan isu-isu sensitive seperti agama atau suku sebagai kendaraan untuk mempengaruhi perilaku pemilih dalam kampanye-kampanye politiknya. Pendekatan kampanye politik seperti ini adalah sangat berbahaya bagi keutuhan masyarakat dan negara. Ini adalah pendekatan kampanye politik yang keliru dari para politisi tertentu yang sebenarnya mengarah pada mengadu domba sendiri, mirip-mirip dengan pendekatan kolonial zaman dulu ketika bangsa kita masih dijajah. Memainkan politik identitas primordial sebagai kendaraan untuk meraih kekuasaan adalah sebuah kesalahan besar dari para politisi tertentu karena memiliki dampak jangka panjang dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, masyarakat kita yang dulunya sangat rukun, damai dan saling menolong berubah menjadi masyarakat yang saling curiga. Hal ini tentu saja menimbulkan kerugian besar dalam menggerus modal social dalam masyarakat kita, seperti sikap tolong menolong dan tenggang rasa.

Kalau kita memperhatikan dengan baik, kontestasi politik dalam pemilihan kepala-kepala daerah dan pemilihan presiden antara 2014-2019 adalah penyumbang utama dan terbesar dalam menciptakan segregasi dalam masyarakat. Event-event politik yang besar tersebut sudah meninggalkan bekas-bekas yang buruk dalam tatanan social kita. Misalnya banyak orang-orang yang tadinya berteman baik di dunia nyata atau media social menjadi tidak berteman lagi karena mereka sudah saling curiga dan tidak saling percaya. Bahkan perpecahan tersebut sampai dalam hubungan-hubungan keluarga dimana mungkin ada suami istri cerai karena beda pilihan politik, atau hubungan antara anggota keluarga retak. Begitu pun dalam kelompok-kelompok masyarakat yang lebih besar, kita dapat merasakan adanya keretakan yang sangat serius.

Ancaman terhadap keutuhan bangsa ini dipercepat dengan meluasnya pengaruh media social. Berbeda dengan zaman dulu ketika internet dan media social belum ada dimana sebuah informasi tidak dengan mudah disebarluaskan dalam waktu yang sangat singkat. Kita sekarang lebih banyak dibanjiri oleh informasi yang penyebarannya begitu mudah dan dapat diakses oleh jutaan masyarakat hanya dalam waktu beberapa menit. Sayang tidak semua berita yang disebarkan mengandung kebenaran. Banyak juga berita palsu (hoax) yang sengaja diproduksi oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan baik kepentingan politik maupun ekonomi. Celakanya, masyarakat kita masih memiliki tingkat literasi yang rendah yang ditandai dengan mudahnya menerima sebuah informasi dan mempercayainya tanpa menganalisa dengan kritis kebenaran berita-berita yang diterimanya. Semua informasi diterima tanpa mempertanyakan sumber beritanya dari mana atau siapa yang menyebarkan beritanya, apakah berita tersebut mengandung fakta yang benar atau hanya propaganda atau berita palsu. Hal ini tentu saja adalah bagian dari lemahnya system Pendidikan kita yang mungkin kurang begitu menekankan daya kritis dalam Pendidikan kita. Akibatnya banyak orang mudah percaya pada setiap informasi hoax tanpa berupaya untuk menyaring dan meragukannya. Misalnya, banyak orang menshare informasi di media social tanpa menyaring terlebih dahulu kebenaran dari berita tersebut.

Kondisi-kondisi tersebut menunjukkan bahwa ujian terbesar kita adalah keberanian dan komitmen kita untuk tetap merawat persatuan dalam perbedaan dengan mengedepankan sikap saling menghormati. Ketika nilai-nilai luhur kebangsaan kita hargai melalui prinsip kesatuan dalam keberagaman atau Bhinneka Tunggal Ika, maka keutuhan masyarakat bisa tetap kokoh. Setelah berakhirnya pemilu dan terjadinya pelantikan presiden serta pembentukan cabinet pada 23 Oktober 2019, kita melihat ada perubahan besar dalam konstelasi politik karena kedua kubu sudah menyatu dalam satu cabinet. Kita belum tahu betul scenario apa yang sedang dibangun namun kita hanya tetap berharap agar keutuhan bangsa kita tetap terjaga.

Sekarang ini, kita dapat merasakan menurunnya ketegangan dalam kedua kubu supporter terutama jika memperhatikan diskusi-diskusi dalam media social. Kedua kubu tidak memiliki alasan untuk saling bertentangan atau menjatuhkan karena para pemimpin kedua kubu sudah mulai menunjukkan tanda-tanda menyatu. Banyak pendukung kedua kubu yang kecewa karena banyak yang berharap agar kondisi ketegangan tersebut berkelanjutan. Akibatnya, diskusi di media kurang seru di antara kedua kubu. Namun, pertanyaannya adalah berapa lama kondisi ini akan berlangsung? Apakah mungkin ada usaha-usaha tertentu untuk memanaskan situasi lagi demi memperebutkan kekuasaan di 2024? Kita belum tahu pasti, kita coba perhatikan saja sambil mendoakan agar muncul politisi-politisi berani dan tegas dan tidak mengorbankan masyarakat untuk kepentingan kekuasaan yang singkat! 


By: Notatema Gea


Ke mana arah politik kita?

Dalam tiga atau empat tahun terakhir ini, kita sedang mengalami goncangan yang besar sebagai sebuah bangsa. Keutuhan kita sebagai bangsa ...